Jumat, 03 September 2010

KOMPOS

Kompos atau humus adalah sisa-sisa mahluk hidup yang telah mengalami pelapukan, bentuknya sudah berubah seperti tanah dan tidak berbau. Kompos memiliki kandungan hara NPK yang lengkap meskipun persentasenya kecil. Kompos juga mengandung senyawa-senyawa lain yang sangat bermanfaat bagi tanaman. 
Manfaat kompos 

1. Kompos ibarat multivitamin bagi tanah dan tanaman. 
2. Kompos memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. 
3. Kompos akan mengembalikan kesuburan tanah. Tanah keras akan menjadi lebih gembur. 
4. Tanah miskin akan menjadi subur. 
5. Tanah masam akan menjadi lebih netral. 
6. Tanaman yang diberi kompos tumbuh lebih subur dan kualitas panennya lebih baik daripada tanaman tanpa kompos. 

Yang bisa dibuat kompos 

Pada prinsipnya semua bahan yang berasal dari mahluk hidup atau bahan organik dapat dikomposkan. 
1. Seresah, daun-daunan, pangkasan rumput, ranting, dan sisa kayu dapat dikomposkan. 
2. Kotoran ternak, binatang, bahkan kotoran manusia bisa dikomposkan. Kompos dari kotoran ternak lebih dikenal dengan istilah pupuk kandang. 
3. Sisa makanan dan bangkai binatang bisa juga menjadi kompos. 
Ada bahan yang mudah dikomposkan, ada bahan yang agak sulit , dan ada yang sulit dikomposkan. 
Sebagian besar bahan organik mudah dikomposkan. 
Bahan yang agak sulit dikomposkan antara lain: kayu keras, batang, dan bambu (waktu pengomposan lebih lama) .
Bahan yang sulit dikomposkan antara lain adalah kayu-kayu yang sangat keras, tulang, rambut, tanduk, dan bulu binatang.

Mengapa harus dikomposkan terlebih dahulu? 

Tanaman tidak dapat menyerap hara dari bahan organik yang masih mentah, apapun bentuk dan asalnya. Kotoran ternak yang masih segar tidak bisa diserap haranya oleh tanaman. 
Apalagi sisa tanaman yang masih segar bugar juga tidak dapat diserap haranya oleh tanaman. 
Kompos yang ‘setengah matang’ juga tidak baik untuk tanaman. 
Bahan organik harus dikomposkan sampai ‘matang’ agar bisa diserap haranya oleh tanaman. 
Prinsipnya adalah tanaman menyerap hara dari tanah, oleh karena itu harus dikembalikan menjadi tanah dan diberikan ke tanah lagi. 

Cara membuat kompos yang cepat, mudah, dan murah 

Membuat kompos sangat mudah. Secara alami bahan organik akan mengalami pelapukan menjadi kompos, tetapi waktunya lama antara setengah sampai satu tahun tergantung bahan dan kondisinya. 
Agar proses pengomposan dapat berlangsung lebih cepat perlu perlakuan tambahan. Pembuatan kompos dipercepat dengan menambahkan aktivator atau inokulum atau biang kompos. 
Aktivator ini adalah jasad renik (mikroba) yang bekerja mempercepat pelapukan bahan organik menjadi kompos. 
Bahan organik yang lunak dan ukurannya cukup kecil dapat dikomposkan tanpa harus dilakukan pencacahan. 
Tetapi bahan organik yang besar dan keras, sebaiknya dicacah terlebih dahulu. 
Aktivator kompos harus dicampur merata ke seluruh bahan organik agar proses pengomposan berlangsung lebih baik dan cepat. Bahan yang akan dibuat kompos juga harus cukup mengandung air. Air ini sangat dibutuhkan untuk kehidupan jasad renik di dalam aktivator kompos. 
Bahan yang kering lebih sulit dikomposkan. Akan tetapi kandungan air yang terlalu banyak juga akan menghambat proses pengomposan. Jadi basahnya harus cukup. 
Bahan juga harus cukup mengandung udara. Seperti halnya air, udara dibutuhkan untuk kehidupan jasad renik aktivator kompos. Untuk melindungi kompos dari lingkungan luar yang buruk, kompos perlu ditutup. 
Penutupan ini bertujuan untuk melindungi bahan/jasad renik dari air hujan, cahaya matahari, penguapan, dan perubahan suhu. Bahan didiamkan selama beberapa waktu hingga kompos matang. 
Lama waktu yang dibutuhkan antara 2 minggu sampai 6 minggu tergantung dari bahan yang dikomposkan. 
Bahan-bahan yang lunak dapat dikomposkan dalam waktu yang singkat, 2 – 3 minggu. Bahan-bahan yang keras membutuhkan waktu antara 4 – 6 minggu. 
Ciri kompos yang sudah matang adalah bentuknya sudah berubah menjadi lebih lunak, warnanya coklat kehitaman, tidak berbau menyengat, dan mudah dihancurkan/remah. 

Penggunaan kompos 

Kompos yang sudah matang dapat langsung digunakan untuk tanaman. 
Tidak ada batasan baku dosis kompos yang diberikan untuk tanaman.
Secara umum lebih banyak kompos memberikan hasil yang lebih baik. 
Tetapi jika kompos akan digunakan untuk pembibitan atau untuk tanaman di dalam pot/polybag, kompos harus dicampur tanah dengan perbandingan satu bagian kompos : tiga bagian tanah (1 : 3). Kompos dapat diberikan sebagai satu-satunya sumber hara tambahan atau lebih dikenal dengan istilah pertanian organik. 
Kompos yang diberikan sebaiknya dalam jumlah yang cukup, agar tanaman dapat tumbuh lebih baik. 
Kompos juga bisa diberikan bersama-sama dengan pupuk kimia buatan. Pupuk kimia dapat dikurangi sebagian dan digantikan dengan penambahan kompos. Kompos dapat diberikan ke tanaman apa saja, mulai dari tanaman pertanian, holtikultura, perkebunan, tanaman hias, buah-buahan, sayuran, dan kehutanan
Misalnya untuk tanaman: padi sawah, padi gogo, jagung, ketela pohon, kacang, kol, kentang, karet, kopi, kelapa sawit, kakao, tebu, aglonema, mangga, akasia, dan lain-lain.
Pemanfaatan TKKS untuk Kompos/Pupuk Organik di Kebun Sawit

Langka dan mahalnya harga pupuk tidak hanya menjadi masalah bagi petani, tetapi juga bagi perkebunan-perkebunan besar, seperti perkebunan sawit. 
Harga pupuk non subsidi saat ini sangat tinggi di atas Rp. 10.000/kg. 
Kondisi ini mendorong perkebunan untuk mencari pupuk alternatif, karena ‘nyawa’ perkebunan sawit ada di pupuk. 
Alternatif terbaik adalah dengan memanfaatkan TKKS (tandan kosong kelapa sawit) untuk pupuk organik/kompos. 
Pembuatan kompos tkks sangat mudah, murah, dan dapat untuk subtitusi pupuk kimia.
1. TKKS Cacah 2. TKKS Utuh 3. Masalah Biaya

Kompos TKKS Cacah

Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), atau sering disebut juga tankos atau jankos, adalah limbah dari pengolahan pabrik kelapa sawit (PKS). 
Setelah melalui perebusan tandan sawit akan dirontokkan buah-buahnya. 
Sisanya adalah tandan yang sudah kosong buahnya. 
TKKS ini masih diperas lagi untuk mengambil sisa-sisa minyak yang masih ada di dalamnya. 
Kemudian melalui konveyor TKKS diangkut ke tampat penampungan TKKS.

TBS (Tandan Buah Segar) yang bagus dapat mencapai berat antara 20 – 30 kg. Kalau sudah rontok buahnya menghasilkan TKKS dengan berat antara 13 – 17 kg. Ukurannya lumayan besar, sebanding dengan beratnya. Karena ukurannya yang lumayan besar, TKKS perlu dicacah terlebih dahulu sebelum dibuat kompos. Tujuan pencacahan ini adalah untuk memperkecil ukuran dan memperluas luas permukaan TKKS, sehingga TKKS dapat terdekomposisi dengan lebih cepat.
Setelah melewati belt conveyor, TKKS dimasukkan ke dalam mesin pencacah. Ada banyak macam mesin pencacah. Misalnya yang sederhana seperti di dalam gambar di bawah ini:

Kualitas mesin cacah menentukan hasil cacahannya. TKKS yang sudah dicacah kurang lebih sudah jadi serabut seperti gambar di bawah ini:


 
TKKS yang sudah hancur siap untuk dibuat kompos. 
TKKS diangkut ke lokasi pengomposan dengan menggunakan dump truk.


 
Secara alami TKKS akan mengalami dekomposisi menjadi kompos. Tetapi perlu waktu yang lama sekali. Mungkin bisa sampai 6 bulan baru bisa digunakan. 
Ada berbagai metode untuk mempercepat proses pengomposan. 
Salah satunya adalah dengan menggunakan aktivator pengomposan. Aktivator ini berisi mikroba-mikroba yang dapat mempercepat proses pengomposan. 
Ada banyak sekali aktivator yang ada di pasaran dengan berbagai merek dan kualitasnya masing-masing. 
Salah satunya adalah PROMI yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI). 
Aktivator Promi tidak memerlukan tambahan bahan-bahan lain untuk mengkomposkan TKKS. 
Selain itu penambahan aktivator Promi juga murah, karena biayanya tidak lebih dari < Rp. 25/kg TKKS (hanya biaya aktivator saja).
Pengunaan Promi sangat mudah sekali. 
Setiap 1 ton TKKS memerlukan Promi antara 0.5 – 1 kg. 
Promi diencerkan dengan menggunakan LCPKS (Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit). 
Banyaknya LCPKS yang diperlukan disesuaikan dengan kebutuhan air bahan, kurang lebih sekitar 30 – 40% bahan. Larutan Promi ini kemudian disemprotkan secara merata ke seluruh tumpukan TKKS.

 
Agar aktivator bisa merata ke seluruh permukaan TKKS perlu dilakukan pembalikan. 
Pembalikan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin Turner (pembalik). 
Dengan menggunakan turner pencampuran dapat merata sempurna. Namun, masalahnya harga turner juga tidak murah. 

 
Mesin turner
Kalau tidak ada turner pembalikan dapat juga dilakukan dengan menggunakan traktor loader. 
Memang memerlukan waktu yang lebih lama, tetapi asal dilakukan dengan baik, pencampuran dapat sempurna juga.

Promi sudah tercampur merata di seluruh permukaan TKKS. 
Pembalikan ini hanya dilakukan sekali saja sudah cukup. 
Setelah itu tumpukan TKKS ditutup dengan menggunakan terpal. 
Sebaiknya terpal dipilih yang cukup tebal dan kuat. Akan lebih baik lagi jika yang tahan UV. Tutup terpal berfungsi untuk menjaga kelembaban dan suhu agar optimal untuk proses dekomposisi TKKS.

 TKKS yang sudah tercampur merata dengan aktivator Promi.
Tumpukan ini dibiarkan saja. Untuk kontrol proses, dilakukan pengukuran suhu dan pengamatan kadar air. 
Pengukuran suhu menggunakan termometer batang biasa.
Suhu yang bagus adalah 60 – 70o C dalam waktu beberapa hari hingga tiga minggu berikutnya. 
Pengukuran kadar air dikira-kira saja. Jangan sampai TKKS kering, karena akan menghambat proses pengomposan.

Atau

Tidak perlu nunggu lama-lama, cukup 4 – 6 minggu saja. Kompos yang baik ditandai dengan adanya perubahan kenampakan dan kelunakan TKKS. 
Kalau dilihat sekilas TKKS masih berserabut-serabut. Tetapi kalau dipegang akan terasa lunak dan mudah putus alias sudah jadi kompos. 
Jika dianalisis di laboratorium rasio C/N-nya sudah di bawah 30.

 Tumpukan kompos TKKS yang sudah matang.
Kompos TKKS ini siap ditebarkan di kebun sawit. Dosisnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan kebun. Tetapi umumnya antara 25 – 60 kg/ph/sm. Kompos ditebarkan dibawah tajuk sawit (di tengah antara pohon dan ujung tajuk) atau di piringan sawit. 


Proses dekomposisi akan tetap berlangsung terus di lapangan, karena kompos yang dibuat dengan Promi bersifat Bioaktif. 
Maksudnya, mikrobanya akan tetap aktif dan berfungsi pula sebagai biofertilizer.  Kira-kira kurang dari sebulan, kompos itu sudah menyatu dengan tanah dan siap memberikan nutrisi untuk tanaman sawit.

 Kompos disebarkan di piringan tanaman sawit

TKKS Utuh

Pencacahan TKKS untuk pembuatan kompos memang sangat membantu dalam mempercepat proses pengomposan. 
Tetapi tidak semua PKS memiliki mesih cacah. Umumnya TKKS masih dibuang dalam bentuk utuh. Kalau anda tidak memiliki mesin pencacah atau loader atau turner yang bisa digunakan untuk pembalikan, tidak perlu berkecil hati, TKKS masih bisa digunakan untuk menambah nutrisi tanaman sawit. 
Caranya sangat mudah sekali.
Beberapa kebun memanfaatkan TKKS utuh sebagai mulsa. Nah…dengan sedikit pengembangan metode mulsa ini bisa juga diterapkan. 
Masih dengan menggunakan Promi
Kebetulan mikroba bahan aktif Promi memiliki ketahanan hidup yang lumayan. 
Jadi meskipun tanpa proses pengomposan mikroba ini masih tetap aktif.
BPBPI mengembangkan teknik yang sangat efisien untuk memanfaatkan TKKS utuh ini. BPBPI mengembangkan alat yang disebut dengan automatic sprayer. Dengan alat ini larutan Promi disemprotkan ke TKKS secara otomatis. Alat ini ditempatkan di dalam konveyor. Jika ada TKKS yang lewat, sensor akan mendeteksi dan larutan disemprotkan ke TKKS tersebut.
Nah, TKKS yang sudah diberi (diinokulasi) dengan Promi bisa ditebarkan di areal sawit. TKKS ditumpuk di piringan sawit. Tinggi tumpukan sebaiknya satu tumpuk saja, karena jika lebih dari satu tumpuk ada bahayanya. Tumpukan TKKS ini bisa dijadikan sarang oleh larva kumbang tanduk, salah satu hama sangat berbahaya di kebun sawit.

 Tumpukan yang terlalu tinggi bisa menjadi sarang larva kumbang tanduk
TKKS utuh dapat juga dimasukkan ke dalam lubang besar. 
Satu lubang dapat diberi kurang lebih 500 kg TKKS. 
Jika kondisi cuaca cukup lembab dan mendukung, proses pengomposan akan berlangsung. 
TKKS utuh akan lebih cepat melapuk dan siap memberikan nutrisi untuk tanaman sawit. Promi juga berfungsi sebagai pengendali serangan gonoderma. 
Metode lubang besar ini juga cukup efektif sebagai tindakan preventif terhadap serangan gonoderma.

 TKKS diaplikasikan di lubang besar.

 TKKS utuh yang sudah satu bulan di lapangan. TKKS ini sudah melapuk dan berkurang ukurannya. Artinya proses pengomposan terjadi.
Pemanfaatan TKKS utuh ini mungkin merupakan solusi terbaik bagi sebagian besar PKS, mengingat tidak semua PKS memiliki fasilitas pengomposan. Dengan metode yang dikembangkan oleh BPBPI ini proses dekomposisi TKKS utuh dilapang bisa menjadi lebih cepat daripada tanpa Promi. 
Di tumpukan TKKS yang digunakan untuk mulsa juga terlihat adanya pertumbuhan akar-akar sawit baru. 
Dan lagi tidak ada larva kembang tanduk yang ditemukan di bawah tumpukan ini.
TKKS utuh yang sudah mengecil dan sangat rapuh. Padahal kurang dari sebulan sejak inokulasi.

 

Masalah Biaya

Salah satu pertimbangan utama yang biasanya diperhatikan oleh perkebunan adalah masalah biaya. 
Biasanya mereka bertanya berapa biaya yang diperlukan untuk membuat kompos tersebut? 
Atau berapa biaya untuk memperkaya TKKS utuh. 
 Penggunaan Promi relative lebih rendah daripada menggunakan aktivator atau metode lain. Apabila mulai dari awal, maksudnya dari belum ada fasilitas pengomposan, biaya investasinya murah. Biaya investasi ini diperlukan untuk: 1. Persiapan areal pengomposan 2. Loader/turner 3. Instalasi pipa untuk penyemprotan LCPKS. 4. Plastik penutup.
Investasi yang besar mungkin untuk pembelian turner yang mencapai milyaran atau loader yang beberaatus juta.
Plastik penutup juga menggunakan terpal plastik biaya yang kualitasnya paling bagus. Tidak perlu menggunakan penutup khusus seperti yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan luar negeri. Harganya juga sangat murah.
Dari sisi operasional juga sangat efisien dan tidak memerlukan biaya besar. Pengadukan dan penyemprotan dengan metode lain menyarankan dilakukan 2 kali seminggu. 
Itu saja waktunya bisa lebih dari 2 bulan, misalnya saja 3 bulan. 

Jadi selama proses pengomposan akan dilakukan 24 kali penyemprotan dan 24 kali pengadukan. 
Biayanya bisa dihitung sendiri: tenaga dan bahan bakar. 

Buka tutup plastik berkali-kali juga merupakan faktor yang menyebabkan terpal menjadi cepat aus.
Dengan menggunakan metode Promi hanya diperlukan satu kali penyemprotan dan satu kali pembalikan selama proses pengomposan yang berlangsung selama 1.5 bulan.
Beban biaya untuk aktivator Promi tidak lebih dari Rp. 25/kg TKKS.
Jika dihitung biaya langsung pembuatan kompos ini memang bervariasi, tergantung dengan efisiensi proses yang dilakukan. 
Biaya yang cukup besar antara lain untuk biaya pengangkutan dan aplikasi. Tetapi biaya ini relative sama untuk semua metode pengomposan. 
Salah satu cara untuk mengefisienkan adalah dengan pengeringan kompos 
Yang lebih menarik lagi adalah pemanfaatan TKKS utuh. 
Karena hanya perlu investasi alat automatik sprayer dan aktivator Promi. 
Ini sangat-sangat murah dibandingkan dengan metode-metode pemanfaatan TKKS lain untuk pupuk organik.

 PROMI
Promi dikembangkan untuk memperkaya dan mendekomposisi limbah organic padat pertanian/perkebunan. Salah satunya adalah fiber dan sludge yang merupakan limbah dari pabrik pengolahan kelapa sawit. 
Kedua macam limbah ini dapat diolah menjadi kompos berkualitas tinggi dengan menggunakan Promi. Berikut ini adalah prosedur pembuatan kompos bioaktif fiber + sludge dengan menggunakan Promi. Prosedur ini telah berhasil diujicoba di pabrik kelapa sawit di Kalimantan dan Sumatera Selatan. 

Bahan

Fiber dan lumpur sawit.
 Fiber
 Lumpur/sludge

Peralatan

Pompa penyedot lumpur sawit, pompa air, selang, bak untuk tempat air dan aktivator, tali, plastik penutup, sekop garpu/cangkul.

Dosis

Promi terdiri dari 3 bagian, yaitu A, T ,dan Pl. Dosis Promi adalah 0,5 kg (A, T, dan Pl) untuk setiap ton bahan. A     = 170 gr atau 30 sendok makan T     = 170 gr atau 30 sendok makan Pl     = 170 gr atau 30 sendok makan

Tahapan

1. Sedot lumpur sawit dengan pompa dan campurkan dengan fiber sawit menggunakan loader sampai kandungan air + 60% (basah bila dipegang).

2. Masukkan Promi ke dalam bak berisi air sesuai dosis yang diperlukan. Aduk hingga tercampur merata.

3. Semprotkan larutan Promi pada campuran fiber dan lumpur sawit, dan aduk dengan loader sampai merata.

 4. Susun fiber sawit dalam bedengan, kemudian tutup dengan plastik. Ikat tepi penutup plastik dengan pasak atau timbun dengan tanah.
 5. Tumpukan fiber sawit dibiarkan selama 6 minggu. 
  1.  terjadi penurunan tinggi tumpukan
  2.  jika dipegang terasa panas
  3.  tidak berbau menyengat
  4.  tidak kering
  5.  fiber mulai melunak
  6.  Apabila tumpukan tidak panas dan fiber kering, maka tambahkan air secukupnya.
  7.  Apabila berbau menyengat dan tumpukan terlalu basah, maka tancapkan bambu yang telah dilubangi untuk menambah aerasi.
  8.  Jika perlu lakukan pembalikan.
  9.  berwarna coklat kehitam-hitaman,
  10.  lunak dan mudah dihancurkan,
  11.  suhu tumpukan sudah mendekati suhu awal pengomposan,
  12.  tidak berbau menyengat, dan
  13.  volume menyusut hingga kurang lebih setengahnya.
Pengamatan Setelah dua minggu diinkubasi lakukan pengamatan hingga ke bagian dalam tumpukan. Buka plastik penutup dan amati tumpukan fiber tersebut. 
Panen
Kompos dipanen apabila telah cukup matang. 
Ciri kompos yang telah matang :

Aplikasi

Kompos yang dihasilkan adalah kompos diperkaya yang mengandung mikroba bermanfaat, yaitu: Trichoderma harzianum yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman, T. pseudokoningii yang dapat mengendalikan penyakit tanaman dan Aspergillus sp. yang dapat melarutkan fosfat. Kompos dapat digunakan untuk tanaman pertanian, perkebunan, maupun tanaman hortikultura.